Minggu, 20 Februari 2011

BAB 3 - Manusia & Penderitaan


Nama Dosen   :   Ninuk Sekarsari
Mata Kuliah   :   Ilmu Budaya Dasar

Nama   :     Diah Ayu Lestari
NPM      :    11110946
Kelas    :     1 KA 33



  • Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita, derita berasal dari bahasa sansekerta, dhra yang berarti menahan atau menanggung. Sedangkan menurut kamus besar Bahasa indonesia derita artinya menanggung (merasakan) sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin.

Penderitan termasuk realitas dunia dan manusia. Itenitas penderitaan bertingkat – tingkat, ada yang berat ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat tidaknya itensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bengkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
  • Siksaan  
Penderitaan biasanya disebabkan oleh siksaan, Siksaan biasa dirasakan pada badah atau jasmani, dan juga dapat berupa siksaan jiwa atau rohani. 
Masalah siksaan jiwa atau rohani (psikis) yang akan diuraikan dalam Ilmu Budaya Dasar, antara lain :
  • Kebimbangan 
Kebimbangan pasti akan dialami ketika seseorang dihadapkan oleh dua pilihan yang penting yang ia tidak dapat menentukan pilihan yang mana yang akan diambil.
  • Kesepian 
Kesepian dialami seseorang berupa rasa sepi dalam dirinya atau jiwanya, hal ini akan terus ia rasakan walaupun ia dalam lingkungan orang ramai. Ini yang perlu dianalisa pertama kali. Perbedaan antara kesepian dengan kesendirian. Kesepian itu perasaan sepi. Sendirian itu ketika seseorang dalam keadaan sendiri. Kesepian bisa berarti seperti “ayam kelaparan di lumbung padi”. Banyak orang di sekitarnya tetapi tetap merasa sepi. Sedangkan sendirian dalam keadaan sendiri, tetapi tidak merasa sepi.
  •  Ketakutan
Ketakutan (fobia) adalah kecemasan yang luar biasa, terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan eksternal tertentu.   Fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap Fobia sulit dimengerti.  
  • Kekalutan Mental 
Secara sederhana, kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan/psikis akibat ketidakmampuan seseorang dalam mengatasi persoalan hidup yang harus dijalaninya. Sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar.
Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental  yaitu : 
  • Kepribadian yang lemah atau kurang percaya diri sehingga menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri, ( orang-orang melankolis)
  • Terjadinya konflik sosial – budaya akibat dari adanya norma yang berbeda antara dirinya dengan lingkungan masyarakat.
  • Pemahaman yang salah sehingga memberikan reaksi berlebihan terhadap kehidupan sosial (overacting) dan juga sebaliknya terlalu rendah diri (underacting). 
Gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah :
  • Nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung
  • Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah

Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah :
  •  Gangguan kejiwaan nampak pada gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmana maupun rohani
  •  Usaha mempertahankan diri dengan cara negatif
  •  Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan
  • Penderitaan & Perjuangan
Setiap manusia pasti mengalami penderiataan, baik berat ataupun ringan. Penderitaan adalah bagian kehidupan manusia yang bersifat kodrati. Karena itu terserah kepada manusai itu sendiri untuk berusaha mengurangi penderitaan itu semaksimal mungkin, bahkan menghindari atau menghilangkan sama sekali. Manusia adalah mahluk berbudaya, dengan budayanya itu ia berusaha mengatasi penderitaan yg mengancam atau dialaminya. Hal ini membuat manusia itu kreatif, baik bagi penderita maupun bagi orang lain yang melihat atau mengamati penderitaan tersebut.


  • Studi Kasus 

VIVAnews - Kematian Jang Ja Yeon sangat menyita perhatian publik Korea Selatan. Maklum saja, artis cantik ini adalah pendatang baru di dunia panggung hiburan negeri Ginseng tersebut. Jang Ja Yeon ditemukan tewas bunuh diri di rumahnya. Tewasnya Jang Ja Yeon itu menjadi pembicaraan bukan karena kematiannya saja yang sangat mengenaskan. Dia juga membawa beberapa nama orang penting dalam bisnis hiburan negara tersebut yang bertanggung jawab atas keputusannya mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri.

Jang Ja Yeon menulis alasannya bunuh diri karena adanya eksploitasi dan juga pelecehan seksual yang dialaminya selama berkarir di dunia hiburan negara tersebut.

Dalam tujuh catatan yang dibuat artis yang bermain di serial 'Boys Before Flowers' sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya, menceritakan betapa kejamnya dunia hiburan tanah air. Dia diduga dipaksa menjadi budak seks untuk orang-orang kaya di sana demi memuluskan karirnya sebagai artis.

Jang Ja Yeon dikenal setelah kemunculannya sebagai bintang iklan televisi. Pada saat artis cantik itu meninggal dia sebenarnya sedang menunggu rilis dua filmnya. Hampir tujuh juta fans yang membuka websitenya setelah dua hari artis cantik itu meninggal pada 7 Maret 2009 lalu.

  • Opini
Menurut saya pribadi, perasaan yang mampu menjadikan kita manusia yang bahagia adalah perasaan selalu berbaik sangka terhadap Allah SWT. Karena Allah SWT sayang terhadap hambanya, kita diuji untuk dinaikkan derajat kita, apabila kita bersabar & bertawakal kepada Allah SWT.
Karena sebaik-baiknya manusia, kita tidak boleh berharap pada manusia, selain pada Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah SWT :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”  
(Al-Baqarah:155)

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” 
(Al-Baqarah:153)
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian.”  
(Muhammad:31) 

Dalam kasus Jang Ja Yeon diatas, orang-orang terdekatnyalah yang seharusnya selalu memperhatikannya. Dan memberi nasihat kepadanya atas tindakan yang dilakukannya,  yang seharusnya ia bekerja dijalan yang baik. Biarlah bekerja dengan hasil yang seadanya, tetapi hati kita selalu tentram kerenanya.

Jelas Jang Ja Yeon tidak bahagia akan pekerjaannya. Seharusnya orang-orang terdekatnya, terutama keluarga mampu membaca ketidakbahagiaannya ini. Sehingga depresi yang dialaminya tak akan terjadi. Sudah pasti yang memperburuk keadaan Jang Ja Yeon adalah perasaan kesepian. Lagi-lagi orang terdekatnyalah yang seharusnya selalu ada menemaninya.

Peristiwa yang menimpa Jang Ja Yeon ini, hendaknya dijadikan pelajaran untuk para keluarga, untuk saling memperhatikan, menyayangi, dan melindungi keluarganya. Begitu juga dengan pertemanan & persahabatan, hendaknya sesama teman/sahabat saling memperhatikan, menyayangi, dan melindungi.

Jika orang-orang terdekat saling mendukung seperti ini, tentu kita akan selalu bahagia & tidak kesepian. Kita juga punya fikiran & hati yang cerah karena berbahagia, sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat dalam hidup kita.

Namun, kita juga harus berhati-hati dalam memilih teman/sahabat. Jangan sampai kita berteman/bersahabat dengan orang-orang yang tidak baik. Tentu, sedikit banyak kita akan terpengaruh. Berteman & bersahabatlah dengan orang-orang yang baik.
Karena ada pepatah seperti ini,
"Jika kita berteman dengan penjual ikan, kita juga akan berbau amis. Namun, jika kita berteman dengan penjual parfum, kita akan berbau wangi."

Utamanya kita harus dekat dengan Allah SWT. Karena orang-orang yang beriman akan mengambil keputusan yang baik untuk hidupnya, karena ia tahu apa-apa saja yang diridhoi Allah SWT. InsyaAllah kita akan selalu sabar & merasa bersyukur atas semua rahmat Allah SWT kepada kita. Jika kita diuji oleh Allah SWT, hendaknyalah kita bersabar & bertawakal.






Sumber :

Selasa, 15 Februari 2011

BAB 2 - Manusia & Cinta

Nama Dosen   :   Ninuk Sekarsari
Mata Kuliah   :   Ilmu Budaya Dasar

Nama     :    Diah Ayu Lestari
NPM       :    11110946
Kelas     :    1 KA 33


Belas Kasih 




Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.


Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Menurut Erich Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:
  1. Perasaan
  2. Pengenalan
  3. Tanggung jawab
  4. Perhatian
  5. Saling menghormati
Erich Fromm dalam buku larisnya (the art of loving) menyatakan bahwa ke empat gejala: Care, Responsibility, Respect, Knowledge (CRRK), muncul semua secara seimbang dalam pribadi yang mencintai. Omong kosong jika seseorang mengatakan mencintai anak tetapi tak pernah mengasuh dan tak ada tanggungjawab pada si anak. Sementara tanggungjawab dan pengasuhan tanpa rasa hormat sesungguhnya & tanpa rasa ingin mengenal lebih dalam akan menjerumuskan para orang tua, guru, rohaniwan dll pada sikap otoriter.

  • Cinta dalam Islam
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal.”   
(Q.S. Al-Hujuraat [49]:13)

Ajaran Islam tentang kasih sayang telah lama di kumandangkan dengan sempurna dan indah. Namun, kebanyakan dari manusia tidak menyadari apa arti sesungguhnya dari kasih sayang itu sendiri, sehingga dapat terhenti dan menyimpang dari aturan-aturan yang telah di firmankan oleh Allah SWT dan hadist-hadist Rasulullah SAW.

Sebagaimana hadist Rasulullah SAW, “Man laa yarhaminnaasa laa yarhamhullaah”  
Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya. (H.R. Turmudzi)

Dalam hadis tersebut kasih sayang seorang Muslim tidaklah terhadap saudara se-Muslim saja, tapi untuk semua umat manusia. 

Sebagaimana hadist Rasulullah SAW, “Sekali-kali tidaklah kalian beriman sebelum kalian mengasihi.” 

Kemudian para sahabat bertanya,  "Wahai Rasulullah, semua kami pengasih” 

Berkata Rasulullah, “Kasih sayang itu tidak terbatas pada kasih sayang salah seorang di antara kalian kepada sahabatnya (mukmin), tetapi bersifat umum (untuk seluruh umat manusia).”  
(H.R. Ath-Thabrani)

Bahkan, bukan hanya kepada manusia saja ajaran Islam yang tinggi ini telah mengajarkan bagaimana kasih sayang terhadap hewan dan tumbuhan yang harus direalisasikan. Abu Bakar Shiddiq r.a. pernah berpesan kepada pasukan Usamah bin Zaid, “Janganlah kalian bunuh perempuan, orang tua, dan anak-anak kecil. Jangan pula kalian kebiri pohon-pohon kurma, dan janganlah kalian tebang pepohonan yang berbuah. Jika kalian menjumpai orang-orang yang tidak berdaya, biarkanlah mereka, jangan kalian ganggu.” Sebuah nasihat ini walau dalam keadaan untuk perang, ajaran Islam tetap memancarkan kasih sayangnya terhadap manusia, hewan, dan tumbuhan. 

Sebuah kisah lain yang menarik ketika Amr bin Ash menaklukkan kota Mesir, saat itu datanglah seekor burung merpati di atas kemahnya. Melihat kejadian ini, kemudian Amr bin Ash membuat sangkar untuk merpati tersebut di atas kemahnya. Tatkala ia mau meninggalkan perkemahannya, burung dan sangkar tersebut masih ada. Ia pun tidak mau mengganggunya dan dibiarkan burung merpati itu hidup bersama sangkar yang ia buat. Maka kota itu dijuluki sebagai kota fasthath (kemah).

Jelaslah bahwa ajaran Islam sangat menjunjung tinggi akan kasih sayang. Kita perlu mencontoh teladan  para Nabi SAW. dan para sahabatnya yang benar-benar merealisasikan makna kasih sayang yang tanpa batas itu, tentunya untuk mencapai keridaan Allah semata yang bukan untuk mencari kesenangan dunia. 

Maka memang pantas bahwa Islam dikatakan sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin. Sifat kasih sayang adalah termasuk akhlak yang mulia yang dicintai Allah. Sebaliknya Allah sangat membenci akhlak yang rendah. Di antaranya kepada orang-orang yang tidak memiliki rasa belas kasih sayang. Ditegaskan hadist Rasulullah SAW. "Laa tunza’ur rahmatu illaa min syaqiyyin." 
Rasa kasih sayang tidaklah dicabut melainkan hanya dari orang-orang yang celaka.
(H.R. Ibn. Hibban)

Yang dimaksud dengan orang celaka adalah orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang di dalam hatinya baik untuk dirinya maupun orang lain. Di sinilah perlunya kita bermuhasabah, bertafakur, apakah diri ini sudah benar menjalani hidup. Bagaimana kita mengasihi dan menyayangi ciptaan Allah sebagai akhlak yang mulia. “Sesungguhnya Allah SWT Maha Pemurah, Dia mencintai sifat pemurah, dan Dia mencintai akhlak yang mulia serta membenci akhlak yang rendah.” 
(H.R. Na’im melalui Ibnu Abbas r.a.)



Studi Kasus




Senin, 14 Februari 2011 11:17

Jakarta -Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkan perayaan Valentine bagi pemeluk agama Islam

"Kalau dilaksanakan oleh orang Islam dalam pengertian Valentine itu ritual dari agama tertentu, itu haram hukumnya," kata Ketua MUI, Amidhan, saat dihubungi melalui telepon selulernya, Jum'at (11/2).

Amidhan mengatakan, semangat saling menghormati dan silaturahmi dari perayaan yang jatuh setiap tanggal 14 Februari itu sebenarnya bagus untuk dicontoh. Namun demikian, jika ingin sekadar berkumpul berbagi kasih dan saling menghadiahi kepada anggota keluarga atau orang terdekat, umat Islam tidak harus terbebani menunggu pada hari Valentine.

Ia menganjurkan kepada para pemeluk agama Islam, khususnya para pemuda-pemudi, untuk selalu mawas diri. Terutama mendekati perayaan hari Valentine yang tinggal tiga hari lagi, Amidhan mengingatkan jangan sampai mereka terjerumus melakukan hal-hal negatif, seperti minum alkohol dan hal-hal yang lebih buruk dari itu.
"Jangan pula melakukan perbuatan yang melanggar etika agama dan negara," kata Amidhan.
(Tempo Interaktif)



Opini

Menurut saya, apa yang dikhawatirkan MUI itu wajar adanya. 
Karena pergaulan di Indonesia kini sudah sedikit banyak terpengaruh arus globalisasi, ke arah budaya barat, yang kurang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa timur.
Tidak dilarang, maka kaum remaja akan semakin tersesat, mereka harus selalu diingatkan. Menurut saya, ini merupakan salah satu wujud rasa kasih sayang kita terhadap remaja sekarang ini, yaitu dengan selalu mengingatkan mereka & menasehati mereka.
Toleransi beragama tentu, sangat, sangat harus dijunjung tinggi. Namun, tidak harus kita mengikuti kebiasaan mereka, apalagi jika kurang sesuai dengan ajaran agama kita pribadi.
Nyatanya larangan MUI hanya pada batas, tidak boleh ikut-ikutan ritual dari agama tertentu, itu haram hukumnya. Itu pun bukan hal yang salah & merugikan, karena hanya pemeluk agama Islam saja yang dilarang, karena dalam Islam kasih sayang tidak mengenal batas waktu.

Sebagaimana hadist Rasulullah SAW. “Cintailah manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri.”
(H.R. Bukhari) 

Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan bermusuhan, namun sangat menjunjung tinggi akan arti kasih sayang terhadap umat manusia. 
Sebagaimana hadist Rasulullah SAW. “Janganlah kamu saling membenci, berdengki-dengkian, saling berpalingan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Juga tidak dibolehkan seorang muslim meninggalkan (tidak bertegur sapa) terhadap sudaranya lewat tiga hari” 
(HR. Muslim)

Sebagaimana hadist Rasulullah SAW. “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam hal kecintaan, kasih-sayang dan belas kasihan sesama mereka, laksana satu tubuh. Apabila sakit satu anggota dari tubuh tersebut maka akan menjalarlah kesakitan itu pada semua anggota tubuh itu dengan menimbulkan insomnia (tidak bisa tidur) dan demam (panas dingin). "
(HR. Muslim)

Begitu indahnya kasih sayang dalam Islam, yang dipupuk setiap hari, kepada sesama manusia & semua mahluk Allah SWT.
Jadi, kurang sesuai kalau kita, sebagai umat muslim, ikut-ikutan tradisi agama lain.
Lebih mulia & benar adanya jika umat muslim, berbahagia, bersuka cita, memperingati hari lahir junjungan besar kita Rasulullah SAW. pada tanggal 12 Rabiul Awal 1432 Hijriyah (15 Februari 2011).
Tidak benar adanya jika remaja muslim, bersuka cita, berpesta merayakan hari istimewa agama lain, tetapi, lupa, bahkan tidak mau memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Disitulah positifnya larangan MUI tersebut, tanpa bermaksud melarang kebebasan agama lain merayakan hari istimewanya. Di Indonesia, masyarakatnya sudah sangat baik, saling menghargai, menghormati & bertoleransi. Buktinya, perayaan imlek pun dihargai oleh semua lapisan masyarakat.

Saya berharap tak ada lagi keributan masalah perbedaan agama, di tanah air kita tercinta & juga di seluruh dunia. Semua akan saling hidup rukun jika kita semua mau saling bersangka baik & berbuat baik.






Sumber :
http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=402:mui-haramkan-perayaan-valentine-&catid=1:berita-singkat&Itemid=92
http://yuliarso.multiply.com/journal/item/569
http://salam-online.web.id/2007/02/25/kasih-sayang-dalam-islam.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta 

BAB 1 - Manusia & Kebudayaan

Nama Dosen   :   Ninuk Sekarsari
Mata Kuliah   :   Ilmu Budaya Dasar


Nama    :    Diah Ayu Lestari
NPM      :    1111O946
Kelas     :   1 KA 33
 

Tujuh Unsur Kebudayaan Universal




Dari beberapa pendapat yang ada tentang unsur kebudayaan universal, pendapat C. Kluckhohn yang sering dijadikan sebagai referensi. Pendapat C. Kluckhohn tentang tujuh unsur kebudayaan merupakan hasil inti sari dari pendapat-pendapat lainnya. 

Dalam karyanya yang berjudul Universals Categories of Culture, ia menjelaskan 7 unsur kebudayaan universal yang selanjutnya disebut cultural universals, yaitu sebagai berikut :
  •   Sistem kepercayaan (sistem religi)
  •   Sistem pengetahuan
  •   Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
  •   Mata pencaharian dan sistem-sistem ekonomi
  •   Sistem kemasyarakatan
  •   Bahasa
  •   Kesenian

Urutan unsur-unsur kebudayaan di atas menurut Koentjaraningrat didasarkan pada mudah atau susahnya suatu unsur kebudayaan mengalami perubahan. Artinya, unsur kebudayaan yang ada pada nomor urut pertama dianggap sebagai unsur kebudayaan universal yang paling sulit berubah, sedangkan urutan yang terakhir merupakan unsur kebudayaan yang paling mudah berubah.

Ketujuh hal ini, oleh Clyde Kluckhohn dalam bukunya yang berjudul Universal Catagories of Culture (dalam Gazalba, 1989: 10), disebut sebagai tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal (cultural universals). 

Artinya, ketujuh unsur ini akan selalu kita temukan dalam setiap kebudayaan atau masyarakat di dunia. Unsur-unsur ini merupakan perwujudan usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup dan memelihara eksistensi diri dan kelompoknya.

  • Cultural Activity 
Untuk kepentingan ilmiah dan memudahkan identifikasi, para sarjana membagi ketujuh unsur kebudayaan universal tersebut ke alam unsur-unsur kebudayaan yang lebih kecil. Ralph Linton misalnya, ia membagi cultural universal tersebut ke dalam sub-sub tertentu yang disebut cultural activity atau kegiatan budaya. 

Pada sistem bahasa, kegiatan budayanya mencakup bahasa lisan dan tulisan. Pada sistem peralatan hidup dan teknologi—baik modern maupun tradisional, tercakup alat-alat rumah tangga, perumahan, senjata, teknologi komunikasi, dan banyak lagi. 

Pada sistem ekonomi dan mata pencaharian hidup, kegiatan budayanya mencakup pertanian, peternakan, sistem produksi, perbankan, dan sebagainya. 

Pada sistem kemasyarakatan, kegiatan budayanya meliputi tata kekerabatan, organisasi kemasyarakatan, organisasi politik, tata hukum, perkawinan, dan lainnya. 

Pada sistem kesenian, bagian-bagian kecil semacam seni tari, seni musik, seni suara, seni pahat, dan seni lukis, termasuk ke dalam kegiatan budayanya. Adapun pada sistem keagamaan, kegiatan budayanya mencakup ritual ibadah, kitab suci, dan lainnya.

  • Traits Compleks
Selanjutnya, kegiatan-kegiatan budaya dipecah-pecah lagi ke dalam bagian yang lebih kecil yang disebut traits complex. Misalnya, kegiatan yang terkait bahasa tulisan—sebagai bagian dari bahasa—meliputi penerbitan buku, media cetak atau surat kabar, internet, dan sebagainya. 

Traits compleks berupa surat kabar dapat dipecah-pecah lagi ke dalam bagian lebih kecil yang disebut traits, seperti koran, majalah, buletin, majalah dinding, jurnal, newsletter, dan sebagainya. Traits ini pada kenyataannya terbagi lagi menjadi item, sebagai unsur kebudayaan terkecil. 

Kita ambil majalah sebagai contoh. Majalah terdiri dari bagian-bagian lebih kecil yang bergabung menjadi sebuah kesatuan, semisal cover, rubrik, iklan, reportase, wawancara, layout, dan sebagainya. 

Walaupun demikian, setiap unsur dari majalah tersebut dapat dilepaskan dari kesatuan tersebut. Namun, apabila satu atau beberapa unsur majalah dilepaskan, fungsi majalah sebagai media komunikasi tidak dapat berfungsi secara optimal.

Pada hakikatnya, setiap unsur kebudayaan yang kehilangan nilai kegunaan, unsur kebudayaan tersebut perlahan-lahan akan hilang. Dengan demikian, setiap unsur kebudayaan senantiasa memiliki kegunaan dan manfaat tertentu dalam kebudayaan secara keseluruhan.

Selain itu, dengan adanya pembagian semacam ini, semakin nyata di hadapan kita bahwa kebudayaan meliputi seluruh segi kehidupan manusia. Ia mencakup ruang dan waktu yang sangat luas; mulai dari rumah sampai negara; berlangsung sejak lahir sampai mati.

Studi Kasus 

Perbandingan Kebudayaan di Indonesia & di Jepang dalam hal Gesture (bahasa tubuh)

Salah satu topik menarik untuk dibahas adalah bagaimana memakai bahasa tubuh untuk mengungkapkan penghormatan. Jepang dan Indonesia memiliki cara berlainan dalam mengekspresikan terima kasih, permintaan maaf, dsb.

  • Ojigi (Jepang)

Dalam budaya Jepang ojigi adalah cara menghormat dengan membungkukkan badan, misalnya saat mengucapkan terima kasih, permintaan maaf, memberikan ijazah saat wisuda, dsb. 
Ada dua jenis ojigi : ritsurei (立礼) dan zarei (座礼).  

Ritsurei adalah ojigi yang dilakukan sambil berdiri. Saat melakukan ojigi, untuk pria biasanya sambil menekan pantat untuk menjaga keseimbangan, sedangkan wanita biasanya menaruh kedua tangan di depan badan. Sedangkan zarei adalah ojigi yang dilakukan sambil duduk.

Berdasarkan intensitasnya, ojigi dibagi menjadi 3 : saikeirei (最敬礼), keirei (敬礼), eshaku (会釈).   

Semakin lama dan semakin dalam badan dibungkukkan menunjukkan intensitas perasaan yang ingin disampaikan. Saikeirei adalah level yang paling tinggi, badan dibungkukkan sekitar 45 derajat atau lebih. Keirei sekitar 30-45 derajat, sedangkan eshaku sekitar 15-30 derajat. Saikeirei sangat jarang dilakukan dalam keseharian, karena dipakai saat mengungkapkan rasa maaf yang sangat mendalam atau untuk melakukan sembahyang. Untuk lebih menyangatkan, ojigi dilakukan berulang kali. Misalnya saat ingin menyampaikan perasaan maaf yang sangat mendalam.  

Di Indonesia tidak mengenal budaya Ojigi ini.
Di Indonesia, kita lebih menggunakan lisan & senyuman dalam menyapa & bertegur sapa dengan orang lain.

  • Jabat Tangan 

Tradisi jabat tangan yang dilakukan baik di Indonesia maupun di Jepang, melambangkan keramahtamahan dan kehangatan. 
Tetapi di Indonesia kadang jabat tangan ini dilakukan dengan merangkapkan kedua tangan. Jika dilakukan oleh dua orang yang berlainan jenis kelamin, ada kalanya tangan mereka tidak bersentuhan. Letak tangan setelah jabat tangan dilakukan, pun berbeda-beda. Ada sebagian orang yang kemudian meletakkan tangan di dada, ada juga yang diletakkan di dahi, sebagai ungkapan bahwa hal tersebut tidak semata lahiriah, tapi juga dari batin.
  • Cium Tangan 
Tradisi cium tangan lazim dilakukan sebagai bentuk penghormatan dari seorang anak kepada orang tua, dari seorang awam kepada tokoh masyarakat/agama, dari seorang murid ke gurunya. Tidak jelas darimana tradisi ini berasal. Tetapi ada dugaan berasal dari pengaruh budaya Arab. Di Eropa lama, dikenal tradisi cium tangan juga, tetapi sebagai penghormatan seorang pria terhadap seorang wanita yang bermartabat sama atau lebih tinggi. 

Masyarakat Jepang tidak mengenal budaya cium tangan.
  • Cium Pipi 
Cium pipi biasa dilakukan di Indonesia saat dua orang sahabat atau saudara bertemu, atau sebagai ungkapan kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya dan sebaliknya. Negara-negara barat juga memiliki budaya ini.
Budaya ini tidak ditemukan di Jepang.
  • Sungkem 
Tradisi sungkem lazim di kalangan masyarakat Jawa, tapi mungkin tidak lazim di suku lain. Sungkem dilakukan sebagai tanda bakti seorang anak kepada orang tuanya, dapat juga seorang murid kepada gurunya. Sungkem biasa dilakukan jika seorang anak akan melangsungkan pernikahan, atau saat hari raya Idul Fitri (bagi muslim), sebagai ungkapan permohonan maaf kepada orang tua, dan meminta doa restunya.

Masyarakat Jepang tidak mengenal budaya sungkem.
 
Opini


Menurut saya, budaya di kedua negara ini sama-sama bersifat positif & sangat sopan santun, sesuai sekali dengan adat ketimuran. 
Karena pada dasarnya kita, masyarakat Indonesia adalah bangsa timur, dan budaya bangsa timur sudah sangat baik, yaitu tahu malu & sopan santun.
Sejatinya budaya yang begitu baik ini dilestarikan.
Janganlah kita mengikuti budaya lain yang kurang baik & kurang sesuai dengan budaya ketimuran kita.
Jangan lupa pula kita harus selalu menyesuaikan diri dengan budaya di sekitar kita, untuk menghormati  masyarakat sekitar & budaya yang dijunjungnya, dimana pun kita berada atau bertempat tinggal.
Namun, juga harus melindungi diri dari budaya yang tidak baik. 




Sumber :